Prolog

“Naotsugu, perhatikan kananmu!”

“Serahkan padaku.”

Naotsugu berteriak menjawab peringatan Shiroe, mengangkat perisai peraknya dan menjatuhkan Triffid.

“Tuanku!”

Dengan satu pukulan, Akatsuki dengan cepat menahan ivy hijau bengkok yang menjangkau dari kiri, dan kanan setelahnya, dia menurunkan tubuhnya dan masuk ke posisi melindungi Shiroe.

Tempat ini adalah Herbery of Small Stone.

Ini memang zona kecil, tetapi karena memiliki fasilitas hiburan kuno, membuatnya berbeda dari reruntuhan di sekitarnya. Ada banyak variasi di medan ini dan pertempurannya sulit.

“Lagipula, bukankah ini terlalu banyak?”




“Jumlah mereka bertambah setiap kali Naotsugu bercanda kotor.”

“Jadi ini salahku?”

Tanpa menanggapi balasan Naotsugu, Shiroe melemparkan panah sihir putih kebiruan dan menembakkannya ke Briar Weasels. Mind Bolt adalah sihir serangan dasar bagi enchanter, sebuah panah energi mental yang menyerang satu musuh.

Sementara Shiroe melihat makhluk mirip binatang pengerat dengan tinggi sekitar satu meter yang menjerit dan melompat, sebuah ikon muncul di benaknya.

Ikon itu berubah pucat, menandakan waktu pengulangan, dan perlahan-lahan pulih seperti jam pasir. Sampai ikon itu kembali bercahaya, mantra itu tidak bisa digunakan. Namun, ada hampir 30 skill lain yang bisa digunakan Shiroe.

“Serang mereka!”

“Akatsuki, serang bagian kiri mereka! ”

“Siap!”

“Serahkan padaku!”

Selain itu, kalaupun seluruh skill-nya tidak dapat digunakan, Shiroe masih memiliki dua teman bersamanya.

“Ayo kita lakukan! Shield Smash!”

Prajurit berlapis zirah perak, yang dengan cepat maju menyusuri jalanan berlumut dan mengayunkan perisainya ke samping kemudian memusnahkan musuh adalah Naotsugu. Dia pria tinggi dengan rambut pendek dan mata yang tampak riang, ia teman Shiroe sejak dulu.

Kelasnya adalah guardian. Di antara 3 kelas prajurit lainnya yang dapat menarik dan menghadang serangan musuh sendiri saja, guardian memiliki kemampuan defensif terbaik, dan di Elder Tales, mereka dijuluki “Perisai yang Tidak Dapat Dipecahkan”.

“Terlalu lambat!”

Seorang gadis muda, yang memberi kesan seperti burung layang-layang, berlari cepat ke celah yang terbentuk dari hasil serangan Naotsugu. Makhluk aneh yang tampak seperti bola rugby dengan taring mirip kaca tumbuh darinya, menyerang. Tetapi gadis itu memotongnya dengan pedang pendek yang dia gunakan saat dia melewatinya.

Gadis mungil dengan rambut hitamnya yang berkibar ditiup angin adalah Akatsuki. Dia memanggil Shiroe “Tuanku,” tanpa ragu dan dia juga teman Shiroe.

Kelasnya adalah assassin. Itu adalah kelas lincah yang memiliki skill membunuh cukup satu serangan. Mereka memiliki serangan fisik terkuat di antara 12 kelas Elder Tales lainnya.




Meskipun Shiroe melihat gerakan mereka dengan terpesona, dia buru-buru maju.

Kelas Shiroe adalah enchanter.

Di antara tiga kelas serangan sihir lainnya, enchanter adalah tipe 100% support yang spesialisasinya adalah sihir status pertempuran dan dukungan. Sudah biasa bagi kelas enchanter di mana pertahanan enchanter bukanlah sesuatu yang bisa diandalkan. Jangankan seperti Naotsugu yang ber-armor penuh, set armor kulit untuk petualang seperti yang dikenakan Akatsuki saja, ia tidak memakainya.

Di bawah mantel putih besarnya seperti gaun, hanya ada kemeja tunik biasa dan celana panjang.

Shiroe, yang merupakan support di belakang tanpa kemampuan bertahan, tidak bisa dibiarkan sendirian di medan perang; dia perlu memperhitungkan sihir efek area lawan sambil mengingat apabila terlalu dekat dengan garis depan bisa berbahaya untuknya. Jadi metode terbaik adalah waspada apabila disergap dari belakang sambil mempertahankan jarak dari Naotsugu dan Akatsuki.

Walaupun begitu, Herbery of Small Stone bukanlah zona dengan kesulitan tinggi.

Monster yang biasa muncul di zona ini adalah Triffids, Briar Weasels, dan Venom Moths; sekitar Level 50-an.

Sedangkan, Shiroe dan kedua temannya adalah Petualang Level 90.

Di dunia MMORPG, Elder Tales, mereka adalah kelas dengan kekuatan tertinggi.Bahkan jika pertahanan Shiroe rendah, dia tidak akan menerima dampak yang besar dengan selisih level yang begitu banyak.

Lagi pula, kalau Naotsugu melawan sejumlah besar musuh, bahkan jika ada sepuluh atau dua puluh Triffid, mereka adalah lawan dengan level yang dapat diurus sendirian oleh salah satu dari tiga anggota kelompok ini.

(Meski begitu, situasi saat ini…)

Sampai sekarang, mereka bertiga tampak riang di wajah mereka, mengobrol dan bertengkar. Tetapi saat ini, Naotsugu dan Akatsuki, ekspresi mereka serius.

Setiap pertempuran mengerikan.

Bahkan jika seseorang memiliki tubuh yang kuat atau pikiran yang sehat, bahkan jika seseorang menggunakan sihir atau menggunakan keterampilan pedang, apabila menghadapi monster, rasa takut masih melekat.

Kedua kaki di tanah, tangannya mencengkeram tongkat dengan kuat, semua itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Angin berhembus melewati pipinya, lolongan monster yang mencekam, adrenalin yang memompa darahnya, itulah yang dirasakan Shiroe saat ini.

Gigi dan cakar yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka, api, atau serangan asam menyerang mereka. Untuk menghindar atau menghadang serangan ini di garis depan, jauh lebih sulit dari yang mereka kira. Untuk mengatasi kesulitan ini, mereka tidak punya pilihan selain untuk mengeluarkan seluruh pengalaman bertarung mereka, inilah kesimpulan mereka.

“Awas! Kananmu!”

“Dimengerti.”

Meskipun wajahnya terlihat serius, Naotsugu masih dengan cepat melihat ke arah yang Shiroe peringatkan darinya, mengayunkan pedang panjang di tangan kanannya. Meskipun serangannya tidak berdampak besar, sudah cukup untuk menghambat pergerakan Briar Weasel itu.

Musang itu memperpanjang tanduk hijaunya, melotot dengan mata merahnya sembari mengerik dua atau tiga kali, ia menarik tubuhnya dan menekuknya menjadi bola.


Serangan barusan membuktikan kecurigaan mereka.

Mereka semua Petualang Level 90, seharusnya jika mereka bertemu monster-monster sekitar Level 48, tidak mungkin akan mendapati situasi “Kegagalan Serangan”.

Ini pun bukti bahwa kerja sama mereka berdua masih kurang.

Meskipun menjadi Petualang Level 90, mereka masih belum dapat mengeluarkan skill mereka sampai pada kemampuan terbaik mereka.

“Nightmare Sphere!”

Itu sebabnya mereka harus menjalankan peran mereka sebaik mungkin. Shiroe yang berkesimpulan seperti itu, mengeksekusi skill AOE. Nightmare Sphere adalah sihir AOE yang dimiliki enchanter.

Meskipun itu adalah skill menyerang, dampak yang diberikan sangat kecil.

Dari awal, kelas enchanter memang tidak difokuskan dalam sihir serangan. Dibandingkan dengan kelas lain dari level yang sama, sihir serangan yang dapat ia keluarkan sangat lemah; ini adalah fakta yang diketahui siapa pun. Skill yang Shiroe gunakan membentuk busur ilusi, mendarat tepat di tengah musang dan tanaman yang bergerak dan meledak dengan hebat, tampaknya itu tidak memberi dampak besar pada musuh, ini bukti terbaiknya.

Meskipun mereka adalah monster dengan setengah level miliknya, dia masih tidak dapat mengalahkan mereka dalam satu serangan; hanya mampu menggunakan serangan dengan dampak yang kecil, ini adalah karakteristik yang dimiliki oleh enchanter.

Dengan demikian, enchanter menjadi kelas yang tidak populer di Elder Tales.

Sebagai pemain, mereka buas saat bermain game. Di dunia di mana bahasa dan komunikasi dibatasi, angka adalah sesuatu yang absolut. Meskipun berada di dalam dunia permainan dan justru karena itu dunia permainan, menjadikan dunia ini memiliki kasta masyarakat yang bahkan lebih tak berperasaan dan ketat daripada dunia nyata.

Kelas-kelas yang “sangat populer” dan kelas-kelas terbuang memiliki kesenjangan evaluasi yang sangat besar.

Namun, meskipun tidak populer di kalangan pemain normal, Shiroe tidak merasa rendah diri dengan kelasnya sendiri. Akan lebih bagus jika dia memiliki beberapa kemampuan khusus yang bisa dia gunakan, tetapi meski ia tidak punya, dia masih dapat menemukan cara untuk menikmati bermain dengan kelas ini. Ini adalah gaya bermain Shiroe, dan sebenarnya Shiroe tidak pernah merasa kesulitan saat dia memainkan kelas ini.

Apalagi, Shiroe suka kelas enchanter.

Termasuk sifat merepotkan ini, kemampuannya yang lemah serta fleksibilitas yang tersembunyi, Shiroe tertarik pada semua itu.Kelas yang “tidak berguna jika dibiarkan sendiri”, itu benar-benar berbeda dari kekurangan Shiroe sendiri, Shiroe sangat menyukai poin itu.

Nightmare Sphere yang dirapal Shiroe, melepaskan mental tidak berwarna di area efeknya, banyak musuh yang terperangkap di areanya terpengaruh oleh gelombang tersebut, mereka terlihat menderita trauma parah, mengakibatkan kecepatan gerakan mereka menurun.

Itu adalah status efek negatif untuk mengurangi kecepatan gerakan.

Nightmare Sphere adalah skill yang memiliki durasi efek pendek tetapi mampu menimbulkan efek yang melumpuhkan targetnya.

“Yeah! Aku bisa bertarung lebih baik seperti ini! ”

“Terima kasih, Tuanku.”




Keduanya berteriak dengan gembira. Monster yang melibatkan mereka bertiga saat itu adalah Triffid dan Briar Weasels, meskipun mereka tampak mengancam dan mengerikan, tinggi kedua monster itu hanya sekitar satu meter.

Begitu kecepatan gerakan monster turun, mereka hanya perlu maju dan menyerang mereka dengan berani.

“Ok! Aku sudah mengalahkan satu!”

“Aku juga.”

“Tidak buruk, Udang!”

“Jangan panggil aku udang, Naotsugu idiot!”

Dua rekan tim itu bukanlah orang yang hanya akan bertempur dengan berpikir negatif.

Pikiran positif Naotsugu sangat luar biasa, meskipun Akatsuki biasanya diam, dia tidak berada di belakang Naotsugu di bidang pemikiran itu juga.

Selama ada kesempatan dan banyak support diberikan, mereka bisa mengalahkan monster berulang kali. Shiroe hanya perlu memberikan support dari belakang untuk keduanya, jika keduanya melewatkan monster yang tersisa, dia hanya perlu menggunakan sihir untuk menahannya serta memberikan pukulan terakhir.

Menurunkan kecepatan gerakan lawan adalah sesuatu yang akan mengubahnya menjadi keuntungan. Karena sudah memahaminya, Shiroe sudah tahu apa yang harus dilakukannya, yang berarti menggunakan tipe sihir panahan seperti Nightmare Sphere atau Astral Bind untuk membatasi gerakan musuh, sepenuhnya mengisi peran pendukung untuk garis depan.

Kalau dipikir lagi, itu bukan urusan besar sama sekali, itu adalah strategi pertempuran dasar yang sudah diulang berkali-kali.

(Setidaknya, kita tidak bisa terus kesusahan dengan musuh level rendah ini; aku masih belum menguji formasi baru.)

Shiroe merenungkan pemikiran seperti itu.

“Rasakan itu!”

“Haa!” Teriakan nyaring terdengar.

Naotsugu dan Akatsuki adalah pemain dengan penuh pengalaman.

Selama ada peluang, mereka akan menjadi rekan yang fokus pada kerja tim yang rukun. Keraguannya yang telah terbentuk sebelumnya pun lenyap.

“Sudah, berakhir seperti itu?”

Naotsugu mengayunkan pedang satu tangannya melengkung besar, menghapus darah dari pedangnya sebelum menaruhnya ke sarungnya.

Kembali tersadar, pertempuran sudah berakhir.




Shiroe menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Naotsugu, menghilangkan sihir yang telah disiapkannya.

“Kita sudah mengalahkan banyak monster.”

“Sepertinya tidak ada indikasi musuh lagi di sekitar, mungkin lebih baik untuk tetap waspada sementara waktu, –maaf, tapi bisakah kalian berdua bantu aku mengambil jarahan?”

Shiroe memanggil sambil mulai mengamati sekeliling.

Indikasi peringatan di benaknya berubah dari merah menjadi biru yang menenangkan, menunjukkan bahwa mode pertempuran telah dinonaktifkan.

Naotsugu dan Akatsuki mulai mengambil loot monster yang telah mereka kalahkan, mereka mungkin akan menguliti bulu musang itu.

Ini adalah naluri bertahan hidup yang telah diasah dari beberapa minggu terakhir.

Beruntung matahari masih tinggi di langit.

Seharusnya tidak ada masalah yang mendadak terjadi. Shiroe mengeluarkan sebotol air dari kantong ajaib di pinggangnya dan meneguknya, menajamkan telinganya untuk mencari tanda-tanda masalah.

(Sungguh, pada akhirnya yang terus berpikir negatif adalah aku.)

Shiroe menghela nafas panjang.

Melihat ke bawah, itu adalah ujung jubah putihnya, terbuat dari kain keras yang cocok untuk kegiatan di luar ruangan, celana panjang yang terlihat berkualitas tinggi. Jika dia mengingat dengan seksama, sepatu yang dia kenakan saat ini terbuat dari kulit Thunder Elk, sepatu bot yang lembut dan nyaman.

Adapun yang dia bawa adalah tongkat.

Staff of the Wise Owl –item langka yang mampu meningkatkan kekuatan sihir dan kecepatan merapalnya, harta milik Shiroe. Panjangnya sekitar dua meter, lebih panjang dari tinggi Shiroe. Penampilannya memberi semacam kesan misterius.Shiroe berpikir bahwa desainnya tampak hebat, kata “hebat” bukanlah perasaan yang dia gunakan di dunia nyata, tetapi perasaan yang seseorang rasakan di dalam dunia virtual.

Setelah hari itu, di mana insiden yang disebut Bencana terjadi, segala sesuatu di sekitar Shiroe dan yang lainnya benar-benar berubah.

Itu tidak semegah atau semanis hebatnya kepahlawanan, tetapi penuh sarkasme, keruh, penuh stres dan tangguh –Realita lain.

“Realitas” yang disebutkan adalah monster yang Shiroe dan teman-temannya baru saja lawan; itulah alasan Shiroe memperhatikan gerakan di sekelilingnya, reruntuhan yang diselimuti tanaman hijau; rekan tim yang memegang senjata mereka dan menguliti mangsa mereka.

Angin dingin bertiup melalui hutan, membawa hawa dingin bersamanya. Serta meninggalkan rasa takut akan pertempuran di dalam kulitnya. Semua ini adalah “Realita” yang Shiroe tempati saat ini.

Shiroe dan teman-temannya, tampaknya terkurung di dunia yang seharusnya hanya permainan, Elder Tales. Setelah Bencana terjadi, semuanya berubah.

(Bagaimanapun, jika kita bisa melakukan pertempuran seperti ini kita bisa mendapatkan uang selama kita bertarung. Ada tempat tidur yang sudah menunggu kami ketika kembali. Apalagi, sejak aku bertemu Naotsugu dan Akatsuki karena hal ini di level yang berbeda-beda, dapat dikatakan ini adalah peristiwa yang paling menguntungkan.)


Shiroe berulang kali menghela nafas, dengan paksa mengubah pikiran suramnya menjadi sesuatu yang lebih positif.

Kejadian saat hari Bencana terjadi melintas di kepalanya, di mana pemain yang tak terhitung jumlahnya bersembunyi di Akiba. Shiroe tidak ingin menjadi seperti mereka yang penuh dengan rasa keputusasaan.

Shiroe mengamati sekelilingnya sembari ia menceritakan rantai peristiwa yang terjadi pada saat Bencana terjadi.